Malaysia Menyatakan Darurat Covid-19, Apa Penyebabnya ?

ICU Hampir Penuh karena Corona, Malaysia Lockdown Lokal

Healthek.com – Direktur Jenderal Kesehatan Malaysia Noor Hisham Abdullah mengatakan, kenaikan kasus yang dialami Malaysia karena adanya kelelahan pandemi atau pandemic fatigue.

Ia menyebutkan, dalam sebulan terakhir kasus COVID-19 melonjak. Pada April 2021, kata dia, ada penambahan 61.984 kasus infeksi virus corona dan 235 orang meninggal dunia.

“Lonjakan kasus COVID-19 baru-baru ini antara lain disebabkan oleh kelelahan pandemi,” tutur Noor, seperti dikutip dari laman The Star.

Akibat kelelahan pandemi yang dialami masyarakat, menurut Moor, masyarakat menjadi terlena dan abai terhadap kepatuhan protokol kesehatan. Hal ini menjadi pemicu naiknya angka kasus COVID-19.

Selain itu, pelonggaran aturan juga berperan dalam peningkatan kasus.

“Selain itu, aturan dilonggarkan, sektor ekonomi dibuka kembali, diadakan temu massal. Ini berkontribusi terhadap lonjakan kasus di mana-mana,” kata dia.

Lanjut Noor, dengan temuan mutasi baru virus Corona, ini menambah kekhawatiran menghadapi situasi sekarang. Rumah sakit-rumah sakit juga berjuang menangani pasien.

“Kapasitas rumah sakit negara juga sedang berjuang, dengan banyak rumah sakit Lembah Klang melaporkan lebih dari 70 persen tingkat penggunaan tempat tidur unit perawatan intensif (ICU),” ujar dia.

Secara keseluruhan, Malaysia mencatat 2.500 kasus baru per Senin (3/5/2021), sehingga total kasus menjadi 417.512.

Kementerian Kesehatan Malaysia juga mendeteksi sembilan klaster baru, sehingga jumlah klaster aktif menjadi 398 klaster.

Dari klaster baru, tiga di antaranya adalah terkait dengan tempat kerja, terkait dengan sektor pendidikan, dan terakhir terdeteksi di pusat penahanan di Jelapang, Perak.

Apa itu pandemi tiredness?

Mengutip laman WHO, pandemic exhaustion sebagaimana yang dialami oleh masyarakat Malaysia merupakan munculnya demotivasi untuk berbagai langkah perlindungan yang direkomendasikan.

Kondisi ini pun muncul secara bertahap dari waktu ke waktu yang dipengaruhi emosi, pengalaman dan persepsi.

Akibat pandemic tiredness, banyak orang-orang mulai mengabaikan cuci tangan, pakai masker dan jaga jarak fisik yang sebelumnya dipatuhi.

Pada Saat Berpuasa yang Benar Bisa Mengurangi Kadar Lemak Jahat dalam Tubuh

6 Tipe Perut Wanita dan Cara Menjaganya Tetap Rata - Fashion & Beauty  Liputan6.com

Healthek.com – Berpuasa bisa menimbulkan sejumlah manfaat sehat bagi tubuh. Selain bisa menyehatkan lambung dan berbagai dampak lainnya, puasa juga diketahui bisa menurunkan kadar lemak jahat.

Saat puasa, waktu makan umumnya hanya dua kali. Hal ini dapat membantu berkurangnya asupan kalori. Selain itu, pola tidur berubah yang akan berpengaruh pada sistem hormone.

Seperti disampaikan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB. Menurutnya, puasa dapat berpengaruh positif pada penyakit kronis dan seharusnya tubuh menjadi lebih sehat.

Ia menambahkan, saat buka puasa maka asupan makanan tetap harus diatur supaya mencukupi, bukan berlebih-lebihan.

” Buka puasa bukan berarti balas dendam karena tidak makan siang sehingga makan siangnya ditarik ke malam dan menjadi makan dua kali sebelum dan setelah sholat tarawih, itu tidak mendapatkan hikmah puasa Ramadhan,” ujar Ari beberapa waktu lalu.

Riset menunjukkan, lanjut Ari, jika puasa dilakukan dengan benar maka ada manfaat positif bagi tubuh. Salah satunya adalah penurunan low-density lipoprotein (LDL) atau lemak jahat. Di sisi existed kadar high-density lipoproteins (HDL) atau kolesterol baik akan meningkat dan baik untuk pencegahan penyakit kardiovaskuler.

Penelitian Lainnya

Ari juga menyampaikan hasil penelitian lain yang menunjukkan adanya perubahan berat badan dan kadar lemak selama berpuasa pada pasien.

Sedang, hasil riset yang dilakukan oleh Ari dan rekan-rekannya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) menunjukkan pada orang yang berpuasa terjadi penurunan massa lemak, tapi masa healthy protein tidak.

” Nah ini hal yang positif, artinya kita tahu bahwa kalau memang kita berpuasa akan terjadi penghancuran lemak. Riset saya menunjukkan yang dihancurkan lemak saja karena kalau lemak ini sudah habis yang akan dihancurkan berikutnya adalah healthy protein.”

“Dan ternyata puasa kita yang 14 jam itu hanya lemak saja yang dihancurkan tidak terjadi penghancuran protein. Ini artinya (puasa) tidak akan memengaruhi daya tahan tubuh dan performa tubuh secara keseluruhan,” tandas Ari.

Pria di Amerika Serikat Tak Sengaja Terima Dua Jenis Vaksin Covid-19 Berbeda

Kemenkes Tegaskan Vaksin Gotong Royong Tak Diperjualbelikan ke Individu

Jakarta – Seorang pria di New Hampshire, Amerika Serikat (AS), tidak sengaja menerima dua dosis vaksin COVID-19 dengan merek berbeda.

Pria bernama Craig Richards tersebut mendapatkan vaksin produksi Moderna di suntikan pertama, dan Pfizer pada suntikan kedua.

Dikutip dari laman New York Message, Richards mendapatkan suntikan pertama dari Moderna pada 16 Maret 2021 lalu.

Kemudian, Richards diberi vaksin COVID-19 buatan Pfizer sebagai dosis kedua secara tidak sengaja pada 13 April 2021.

Tenaga medis yang menyuntik Richards sadar atas kesalahannya yang memberikan dosis berbeda setelah obatnya masuk ke laporan.

Richards hanya bisa terdiam ketika nakes setempat memberi tahu bahwa ia sudah mendapatkan dua jenis vaksin berbeda.

Tak lama kemudian, manager nakes yang menyuntikkan mendekati Richards untuk membahas apa yang telah terjadi dan meyakinkannya bahwa, terlepas dari kesalahannya, semuanya akan baik-baik saja.

Meski begitu, Richards sangat cemas karena dia mendengar satu vaksin saja sudah menimbulkan efek samping. Apalagi, dia kini mendapat dua.

Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menerangkan, idealnya vaksinasi harus dengan merek yang sama ketika mendapatkan vaksin dosis pertama.

Namun, jika dua vaksin yang tidak sengaja dipakai, maka penerima tidak perlu suntik ulang. Kebetulan, kedua vaksin yang dipakai menggunakan system yang sama yakni mRNA.

Indonesia Menemukan Varian Covid-19 dengan Mutasi E484K

Pandemi Corona, Kegiatan Panitia Ad Hoc Pilkada di Sulut-Sumbar Dihentikan

Healthek.com – Varian COVID-19 dengan mutasi E484K atau Eek ditemukan di Indonesia. Mutasi ini sempat membuat heboh di Jepang karena ditemukan pada sekitar 70 persen kasus COVID-19 bulan lalu.

Mutasi Eek jadi perhatian khusus karena diyakini membuat virus jadi lebih resistan terhadap antibodi. Ini artinya efektivitas vaksin yang ada saat ini dikhawatirkan bisa berkurang.

Beberapa ahli juga menduga varian COVID-19 dengan mutasi Eek bisa menghasilkan keparahan penyakit yang lebih tinggi pada usia muda. Hal ini terlihat pada kasus-kasus di beberapa negara yang memiliki varian dominan, seperti P1 di Brasil dan B117 di Inggris.

“So far melihat yang mengalami gejala COVID berat adalah pengidap komorbid dan lansia, itu nggak berubah. Kecuali pertanyaannya varian tertentu ini bisa menyerang sampai anak-anak SD atau SMP.

Secara global, risiko mereka bergejala berat itu jauh lebih kecil. Tapi kalau E484K ini bikin gejala seperti lansia (pada anak-anak), itu baru kita perlu concern,” kata pakar mikrobiologi molekuler Ahmad Rusdan Utomo pada Healthek.com beberapa waktu lalu.

Menurut Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, mutasi Eek ditemukan pada sampel yang diambil dari salah satu Rumah Sakit di Jakarta Barat.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan RI, dr Siti Nadia Tarmizi, menjelaskan satu kasus mutasi Eek ditemukan pada bulan Februari lalu. Kondisi pasien sudah sembuh dan sampai saat ini tidak ditemukan kasus penularan.

“Iya satu spesimen dari DKI Jakarta di bulan Februari dan saat ini sudah sembuh dia. Kita sudah mentracing kasus kontaknya dan tidak ada yang positif sampai saat ini,” jelas dr Nadia pada Selasa (6/4/2021).