Beberapa Resiko Sering Makan Kecap yang Mengganggu Kesehatan

Tak Cuma Kecap Manis, Ini Jenis-Jenis Kecap dan Cara Membuatnya Sendiri -  Semua Halaman - Nova

Healthek.com – Tak dapat dipungkiri, kecap menjadi bumbu penggugah selera bersantap masyarakat Indonesia selain sambal. Bahkan beberapa orang tak keberatan bila dianggap ‘tak bisa hidup tanpa kecap.’

Secara etimologi kata ‘kecap’ berasal dari Bahasa China ‘kôechiap’ atau ‘kê-tsiap’ yang merupakan bumbu penyedap untuk masakan. Ya, kecap merupakan bumbu warisan masyarakat Tionghoa. Meski awalnya kecap bercita rasa asin, namun masyarakat Indonesia mengkreasikan dengan menambah gula Jawa. Membuat cita rasanya menjadi manis nan legit.

Jejak perjalanan kecap di Tanah Air pun kian berkembang. Healthline melansir, kecap merupakan produksi China yang berkembang mulai lebih dari 3.000 tahun lalu. “Produk serupa dikembangkan di Jepang, Korea, Indonesia, dan di seluruh Asia Tenggara.”

Sayangnya perkembangan kecap sebagai bumbu instan, membuat beberapa produsen menambahkan bahan kimia, pewarna, hingga penguat rasa. Beberapa juga mengandung tinggi garam. Meskipun begitu, memang, masih ada kecap tradisional yang alami dan tanpa bahan pengawet.

Healthline pun membeberkan, kecap yang mengandung bahan kimia biasanya mencantumkan label “protein kedelai terhidrolisis” atau “protein nabati terhidrolisis.” Jenis kecap inilah yang sebaiknya kamu hindari atau kurangi tingkat konsumsinya.

Menurut data Self Nutrition, satu sendok makan (15 mililiter) rata-rata kecap yang difermentasi secara tradisional mengandung; 8 kalori, 1 gram karbohidrat, 1 gram protein, dan 902 miligram natrium.

Berdasarkan data tersebut, kecap tergolong makanan tinggi garam; yang menyediakan hampir 38 persen dari rekomendasi garam harian. Sehingga, kamu perlu kembali memastikan jumlah konsumsi kecap harian agar tak berbahaya bagi kesehatan.

Lalu, apa saja bahayanya bagi kesehatan bila kamu berlebihan dalam mengonsumsi kecap? Berikut ulasan selengkapnya.

  • Kecap Tinggi Garam

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, bahwa kecap mengandung natrium (garam). Asupan tinggi natrium kerap dikaitkan dengan peningkatan tekanan darah hingga risiko penyakit jantung.

Beberapa penelitian pernah mengungkapkan bahaya kesehatan dari makanan tinggi garam. Salah satunya Journal of the American College of Nutrition tahun 2006, mengaitkan asupan tinggi garam pada penyakit jantung hingga kanker usus.
Faktanya, menurut beberapa jurnal diterbitkan PubMed, mengurangi garam harian dapat langsung menurunkan tekanan darah. Tapi sayangnya, mengurangi garam tak dapat langsung menurunkan risiko penyakit jantung.

Maka itu, WHO menyarankan jumlah asupan natrium dalam pola makan harian adalah 1.500-2.300 miligram. Sebab, satu sendok makan (15 mililiter) kecap menyediakan hampir 38 persen dari rekomendasi garam harian. Ditambah garam dapur menyumbang 291 persen natrium dari rekomendasi harian.

  • Meningkatkan Resiko Kanker

Mengutip NDTV, isoflavon dalam produk kedelai jika dimakan dalam jumlah berlebihan, maka dapat meningkatkan risiko kanker payudara.

Tak hanya itu, pada penelitian Critical Reviews in Food Science and Nutrition tahun 2016, menemukan zat beracun 3-MCPD. Zat berbahaya ini memiliki risiko merusak kinerja ginjal, menurunkan tingkat kesuburan, hingga menyebabkan timbulnya tumor.

  • Mengandung banyak amina

Amina adalah bahan kimia alami yang ditemukan pada tumbuhan dan hewan. Bahan ini sering ditemukan dalam makanan yang mengalami proses fermentasi; salah satunya kecap.

Kecap mengandung banyak amina, termasuk histamin dan tyramine. Menurut jurnal Ceskoslovenská Fysiologie tahun 2013, terlalu banyak konsumsi makanan mengandung histamin dapat menyebabkan; sakit kepala, berkeringat, pusing, gatal, ruam, masalah perut dan perubahan tekanan darah.

  • Banyak mengandung gula

Sudah bukan rahasia bahwa kecap manis mengandung tinggi gula. Dalam satu sendok makan kecap manis bisa mengandung sekitar 10 gram gula. Jika kamu mengonsumsinya dalam jumlah banyak, maka kemungkinan kadar gula darahmu bisa melonjak seketika.

Padahal, perlu kamu ketahui bahwa Kementerian Kesehatan menyarankan kita untuk tak mengonsumsi gula lebih dari 50 gram per hari. Maka bayangkan saja, saat kamu makan kecap lebih dari yang direkomendasikan, risiko diabetes pun bisa mengintai dalam jangka waktu panjang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *