Beberapa Efek Stres Pada Wajah yang Biasa Terjadi

Memicu Jerawat Hingga Keriput, Berikut 5 Efek Stres pada Wajah - Tribun Bali

Healthek.com – Stres adalah kondisi yang penting untuk dapat segera diatasi. Pasalnya, jika stres menjadi kronis, hal itu dapat berdampak serius pada kesehatan Anda.

Stres di antaranya dapat meningkatkan risiko Anda terkena depresi, berdampak negatif pada sistem kekebalan tubuh, termasuk meningkatkan risiko terkena penyakit kardiovaskular.

Stres juga bisa meninggalkan bekas di wajah Anda. Stres kronis pada dasarnya dapat terlihat di wajah Anda dengan dua cara.

Pertama, hormon yang dilepaskan tubuh saat Anda merasa stres dapat menyebabkan perubahan fisiologis yang berdampak negatif pada kulit Anda.
Kedua, merasa stres juga dapat menyebabkan kebiasaan buruk seperti menggertakkan gigi atau menggigit bibir. Berikut ini adalah beberapa efek stres pada wajah yang dapat terjadi:

  1. Jerawat

Melansir Healthek.com Line, saat Anda merasa stres, tubuh Anda akan memproduksi lebih banyak hormon kortisol.

Produksi hormon kortisol ini diketahui dapat menyebabkan bagian otak yang dikenal sebagai hipotalamus menghasilkan hormon yang disebut hormon pelepas kortikotropin atau corticotrophin-releasing hormone (CRH). CRH dianggap dapatmerangsang pelepasan minyak dari kelenjar di sekitar folikel rambut Anda.

Produksi minyak yang berlebihan oleh kelenjar ini kemudian dapat menyumbat pori-pori Anda dan menyebabkan timbulnya jerawat. Meskipun diyakini secara luas bahwa stres dapat menyebabkan jerawat, memang baru ada sedikit penelitian yang meneliti hubungannya. Sebuah studi pada 2017 mengamati efek stres pada jerawat pada mahasiswi kedokteran yang berusia antara 22 hingga 24 tahun. Para peneliti menemukan bahwa tingkat stres yang lebih tinggi berkorelasi positif dengan tingkat keparahan jerawat. Sebuah studi epidemiologi di Korea Selatan pada 2011 meneliti faktor potensi penyebab jerawat pada 1.236 orang. Para peneliti menemukan bahwa stres, kurang tidur, konsumsi alkohol, dan menstruasi berpotensi memperburuk jerawat.

  1. Kantung mata

Kantung di bawah mata ditandai dengan bengkak atau benjolan di bawah kelopak mata.

Kantung mata menjadi lebih umum seiring bertambahnya usia karena otot pendukung di sekitar mata Anda melemah. Kulit kendur yang disebabkan oleh hilangnya elastisitas juga dapat menyebabkan kantung mata. Studi telah menemukan bahwa stres yang disebabkan oleh kurang tidur dapat meningkatkan tanda-tanda penuaan, seperti garis halus, elastisitas berkurang, dan pigmentasi yang tidak merata. Hilangnya elastisitas kulit juga dapat berkontribusi pada pembentukan kantung mata.

  1. Kulit wajah kering

Stratum corneum adalah lapisan luar kulit Anda. Ini mengandung protein dan lipid yang memainkan peran penting dalam menjaga sel kulit tetap terhidrasi. Stratum corneum juga bertindak sebagai penghalang yang melindungi kulit di bawahnya. Jika stratum korneum Anda tidak berfungsi sebagaimana mestinya, kulit Anda bisa menjadi kering dan gatal. Menurut ulasan studi pada 2014 yang diterbitkan dalam Inflammation & Allergy Drug Targets, beberapa penelitian yang dilakukan pada tikus menemukan bahwa stres dapat merusak fungsi penghalang stratum korneum dan dapat memengaruhi retensi air kulit secara negatif. Ulasan tersebut juga menyebutkan bahwa beberapa penelitian pada manusia telah menemukan bahwa stres akibat wawancara dan stres dari “gangguan perkawinan” dapat memperlambat kemampuan pelindung kulit untuk menyembuhkan dirinya sendiri juga.

  1. Ruam

Stres berpotensi melemahkan sistem kekebalan Anda. Sistem kekebalan yang lemah sendiri dapat menyebabkan ketidakseimbangan bakteri di usus dan kulit Anda yang dikenal sebagai disbiosis. Ketidakseimbangan ini terjadi pada kulit Anda yang dapat menyebabkan kemerahan atau ruam. Stres diketahui memicu atau memperburuk beberapa kondisi yang dapat menyebabkan ruam atau kulit meradang, seperti psoriasis, eksim, dan dermatitis kontak.

  1. Keriput

Stres dapat menyebabkan perubahan pada protein di kulit Anda dan mengurangi elastisitasnya. Hilangnya elastisitas ini dapat berkontribusi pada pembentukan kerutan. Stres juga dapat menyebabkan alis berkerut berulang kali yang juga berkontribusi pada pembentukan kerutan.

  1. Rambut beruban dan rambut rontok

Banyak orang selama ini mungkin telah sering mengatakan bahwa stres bisa membuat rambut beruban. Namun, baru belakangan ini para ilmuwan mengetahui alasannya. Perlu dipahami terlebih dahulu, sel yang disebut melanosit menghasilkan pigmen yang disebut melanin yang memberi warna pada rambut Anda. Sebuah studi pada 2020 yang diterbitkan di Jurnal Nature menemukan bahwa aktivitas saraf simpatik dari stres dapat menyebabkan sel induk yang membuat melanosit menghilang.

Setelah sel-sel ini menghilang, sel-sel baru kehilangan warnanya dan berubah menjadi abu-abu. Stres kronis juga dapat mengganggu siklus pertumbuhan rambut Anda dan menyebabkan kondisi yang disebut telogen effluvium. Telogen effluvium menyebabkan rambut rontok lebih banyak dari biasanya.

  1. Cara lain stres memengaruhi wajah Anda

Berikut ini adalah beberapa cara lain stres dapat memengaruhi wajah Anda:

  • Kerusakan gigi

Banyak orang “mengadopsi” kebiasaan mengertakkan gigi saat merasa stres atau cemas.
Seiring waktu berjalan, hal ini dapat menyebabkan kerusakan permanen pada gigi anda.

  • Kelainan sendi radang (TMD)

TMD adalah sekelompok masalah kesehatan yang memengaruhi sendi rahang dan otot-otot di sekitar wajah yang mengontrol proses pengunyahan dan gerakan rahang.

TMD bisa disebabkan oleh gigi Anda yang mengatup berulang kali.

  • Wajah memerah

Stres dapat menyebabkan Anda mengubah kebiasaan bernapas Anda. Kebiasaan bernapas ini bisa membuat wajah Anda merona sementara.

  • Bibir sakit

Banyak orang menggigit bibir atau bagian dalam mulutnya saat merasa stres.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *